Thailand trip (day-2) : Naik tuk-tuk keliling Phuket
Pada hari ke-2 ini kami sudah siap-siap sejak pagi. Rencananya hari ini kami akan ke Phi-phi Island. Menurut e-mail dari agentnya kami akan di jemput jam 6 pagi. Sejak jam 6 kami sudah menunggu di lobby, dan satu persatu tamu dihotel pun sudah dijemput oleh travel agent mereka. Tapi hampir satu jam kami menunggu belum juga di jemput. Saya tentu saja gelisah. Maka saya suruh suami telphon ke travel agentnya. Tidak berhasil. Gimana nih? Kami bingung. Tiba - tiba receptionist menanyakan apakah ada yang bernama Mr. Andri. Trus ia bilang, ada telphon untukmu. Ooooh ternyata dari travel agentnya. Dan mengatakan kalau hari ini, kami belum bisa ke Phi-phi Island, karena dianggap kami belum konfirmasi ulang sebelumnya. Memang menurut perjanjiannya kita harus konfirmasi dulu sehari sebelumnya.
Duuuh.....kecewa banget saya. Saya tanya ke suami emang belum confirm? kata beliau "kemaren sempat nelpon sih, tapi pas lagi boarding dan suaranya kayaknya putus-putus, udah gitu terburu-buru karena sudah ada panggilan untuk naik ke pesawat".Yaaah..... kalau gitu emang salah kita juga. Btw kita pesan paket tour di sunleisureworld.com. Sebenarnya di sekitar hotel pun bertebaran travel agent yang menawarkan paket-paket ke beberapa pulau sekitar phuket. Tapi karena kami tidak mau repot harus cari-cari lagi, jadi kami putuskan pesan online.
Di tengah kekecewaan, timbul kebingungang, kita mau pergi kemana hari ini? Sebelumnya sudah ada rencana, tetapi belum terlalu dimatengin mau keliling-keliling naik apa? waktu itu kita akan memutuskan transportasinya, setelah lihat situasi di phuket. Akhirnya kita putuskan untuk pergi ke pantai Patong dulu deh yang dekat. Kalau ke Patong ini memang lebih baik pagi hari, karena masih sepi dan belum banyak orang berjemur.
Setelah puas bermain di pantai patong, kami bingung mau keliling phuket pakai apa? kebanyakan di sini menyewakan sepeda motor, tapi ayah nggak berani, karena bawa maisa, dan belum kenal medan di phuket. Ditengah kebingungan, kami lihat ada pasangan turis bermuka oriental sedang menawar tuk - tuk (song thew) sambil sang sopir memperlihatkan peta phuket yang sudah di beri beberapa tempat tujuan wisata.
Kemudian kita akhirnya memutuskan menyewa tuk - tuk untuk mengantarkan kita berkeliling pulau phuket. Sebenarnya ada penyewaan mobil, tapi pasti akan memakan waktu lagi untuk mencarinya dan yang pasti bakalan mahal kalau dadakan begitu, apalagi ini peak season. Kalau pun harus pakai tour agent untuk keliling phuket, kemungkinan sudah pada jalan jam segitu.
Mulailah kita mencari tuk - tuk yang kosong. sekitar 15 menit, belum juga terlihat, sudah banyak yang terisi. Di tengah penantian, maka ada salah satu tuk-tuk yang berhenti di depan kami dan sang sopir berkata Assalamu'alaikum. Dari mukanya lebih terlihat seperti orang melayu. Kita bingung, padahal di tuk-tuk itu juga ada turis asing lain. Ketika kami menghampirinya dan mengatakan kalau kita akan ke suatu tempat. Ia langsung terburu - buru dan berkata "naik! naik!" Dalam keadaan bingung kita pun naik. Walaupun dalam benak ini masih bertanya - tanya kebingungan.
Ketika di suatu persimpangan jalan, sang sopir menurunkan penumpang bule, kami pun ikut turun, maksudnya hendak bertanya lebih jelas kepada sopirnya. belum sempat bertanya, sopir ini sambil teriak-teriak suruh kita naik. Tidak lama setelah itu, ia pun berhenti. Kita pun masih bertanya ini orang mau apa sih? Nggak taunya ia mau pesan pancake untuk sarapannya. Ini salah satu camilan yang harus dicoba ketika ke phuket dan banyak yang halal, bahkan ada penjualnya yang menggunakan jilbab. Kemudian kami pun bertanya, apakah ia bisa mengantarkan kami ke beberapa tempat wisata? ternyata katanya, setelah ini akan ia antarkan kami ke seorang temannya, karena ia sendiri nggak bisa. "Bilang dong dari tadi", kataku dalam hati.
Kami pun dipertemukan dengan temannya. Kalau tanya harga, kami disuruh tanya langsung ke temannya. tapi kami pun tetap memberikan ongkos padanya. Setelah kita bertemu dengan sopir yang lain (muslim juga), kami minta ia bawa ke beberapa tempat di phuket ini. Ia pun menyanggupi mengantarkan kami keliling phuket dan membawa istrinya turut serta.
Pertama - tama ia membawa ke beberapa pantai, diantaranya Karon beach dan Kata beach. Juga ia bawa kita ke Kata beach view point. Kami tidak terlalu lama berhenti di pantai- pantai tersebut, karena sudah ramai sekali para turis berjemur. Lalu setelah itu kami pun dibawa ke Promthep Cape, Letaknya di bagian selatan pulau Phuket. Inilah objek wisata yang saya sukai. Saya suka pemandangannya ke laut lepas. Tapi sayangnya kami di bawa ke sini tepat di tengah hari, jadi kurang bisa menikmati pemandangan karena panasnya yang terik. Di sekitar objek wisata ini, kita banyak menemui penjual-penjual souvenir. Tapi kami nggak beli apa-apa di sini, karena berniat membelinya di Bangkok saja. Bagi yang ingin ke Promthep Cape, sebaiknya datanglah ke sini sore hari, apalagi kalau pergi dengan suami, akan terasa suasana romantis sambil melihat sunset.
Setelah merasa puas di Promthep Cape, kemudian kami diantar ke Wat Chalong. Wat Chalong merupakan salah satu bangunan kuil yang terkenal di Phuket ini. Sampai di sana sudah ramai sekali. Kebanyakan yang berkunjung kemari para turis mancanegara. Ada beberapa orang penduduk lokal, tapi mereka ke sini memang tujuannya untuk beribadah. Ada juga beberapa turis yang ikut mencoba cara prosesi peribadatan agama Budha. Karena ini merupakan tempat peribadatan, maka turis yang masuk ke dalam kuil harus berpakaian yang sopan. Bagi turis asing yang pakaiannya minim, di sediakan kain untuk menutupi bagian yang dianggap terbuka oleh mereka. tapi saya kurang tahu, berapa sewanya. Dan ini berlaku juga untuk seluruh kuil yang akan kita masuki di seluruh Thailand. Jadi bagi yang mau berkunjung ke kuil - kuil, jangan lupa pakailah pakaian yang sopan. Jangan pakai celana pendek atau baju yang tidak berlengan. Btw untuk memasuki pantai, promthep cape, dan wat chalong tidak ada pungutan biaya, alias gratis.
Setelah puas foto-foto, kami pun menuju parkiran tuk-tuk, kemudian sang sopir tuk-tuk bicara pada kami, "after ni, kita chopping -chopping, tak beli tak ape". Suami bingung, maksudnya apa bunda? Shopping ayah, kataku. Oooh... baru ngeh ayah maksudnya :-) Sang sopir biasa bicara dengan kami menggunakan bahasa melayu yang campur aduk :-)
Sejak awal kami sudah bilang, kalau kami hanya pergi ke tempat wisata saja, tidak ke tempat belanja - belanja. Tapi ia keukeh dan membujuk kami supaya mau, dengan alasan, kalau ga suka nggak usah beli. Karena ia bakal dapat persenan kalau ia bawa kami ke sana, apalagi kalau turis yang ia bawa ngeborong, tambah gede deh persenannya.
Pertama-tama kita diantar olehnya ke Pearl factory and showroom. Tidak sampai lima menit, kami sudah keluar dari toko itu. Hanya lihat-lihat sebentar saja. Di toko tersebut, dijual berbagai macam mutiara dan berbagai jenis batu permata. Kisaran harganya saya juga kurang tahu, karena memang nggak berniat membeli, maka kami pun tidak sempat memperhatikan harga-harga perhiasan tersebut. Kemudian pak sopir mengatakan kalo setelah ini kita akan diantar ke "kechyuw nut". Kami iya kan saja, walaupun agak sedikit bingung mau kemana? Ketika sampai di tujuan, baru kami mengerti kalau tujuan yang di maksud adalah pusat penjualan "Cashew Nut" . Di sini merupakan pusat penjualan kacang mete sekaligus pabriknya dan memang kebanyakan yang di bawa ke sini adalah turis. Tetapi harga kacang mete di sini sangat mahal., jadi kami cuma beli sekedarnya saja. Setelah itu kita juga dibawa ke Bee farm. Tujuan utama kita dibawa kesana agar kita mau membeli madu mereka. Tapi...... harganya mahal banget. 1 botol madu dengan berat 450 gram, harganya kalau dirupiahkan bisa sekitar 180rb-an. Akhirnya kita beli yang harganya murah saja, pisang madu kering. Seperti pisang sale.
Setiap kita masuk ke tempat - tempat yang disebutkan di atas, baik itu pusat perhiasan, cashew nut ataupun bee farm, kita akan diberikan stiker yang mereka tempelkan dibaju pengunjung. Bahkan sewaktu ke bee farm kita akan ditanya asal negara dari mana, kalau kita bilang dari indonesia, mereka juga menyediakan guide yang berbahasa Melayu.
Karena sudah lewat makan siang, perut sudah tidak bisa diajak kompromi lagi. Maka kami meminta beliau untuk mengantarkan ke tempat makan muslim. Keuntungannya menggunakan sopir ini, ia seorang muslim, jadi ia tahu kemana seharusnya kami dibawa untuk makan. Kami pun dibawa ke phuket town. Ia membawa ke salah satu rumah makan yang penjualnya berjilbab. Tetapi saya lupa mencatat dimana letak persisnya restoran ini. Di restoran ini tidak disebutkan harganya di menu. Maka ketika kami membayar, kami agak kaget, karena harga kami bayar lebih mahal dibanding dengan yang dibayarkan sopir. Sepertinya harga turis dan pribumi dibedakan.
Akhirnya kami minta diantarkan ke hotel, walaupun kami masih punya banyak waktu untuk menggunakan tuk-tuk tersebut. Kami melihat rumaisa sepertinya sudah lelah. Dan cuaca terik di phuket memang membuat kita cepat lelah.
Sore harinya kita keluar lagi. Kali ini kita jalan-jalan ke junceylon mall, kemudian menyusuri bangla road, yang merupakan pusat kehidupan malam di patong. Data itu bangla road baru akan ditutup jalannya. Cafe - cafe sedang bersiap - siap mengeluarkan kursi - kursi ke tepi jalan. Setiap harinya menjelang maghrib bangla road ini ditutup guna aktifitas malam hari. Kemudian kami pun ke patong beach lagi, ternyata sore hari suasananya lebih ramai.
| Pantai Patong di pagi hari |
Setelah puas bermain di pantai patong, kami bingung mau keliling phuket pakai apa? kebanyakan di sini menyewakan sepeda motor, tapi ayah nggak berani, karena bawa maisa, dan belum kenal medan di phuket. Ditengah kebingungan, kami lihat ada pasangan turis bermuka oriental sedang menawar tuk - tuk (song thew) sambil sang sopir memperlihatkan peta phuket yang sudah di beri beberapa tempat tujuan wisata.
| Salah satu jalan di tepi pantai Patong |
Kemudian kita akhirnya memutuskan menyewa tuk - tuk untuk mengantarkan kita berkeliling pulau phuket. Sebenarnya ada penyewaan mobil, tapi pasti akan memakan waktu lagi untuk mencarinya dan yang pasti bakalan mahal kalau dadakan begitu, apalagi ini peak season. Kalau pun harus pakai tour agent untuk keliling phuket, kemungkinan sudah pada jalan jam segitu.
Mulailah kita mencari tuk - tuk yang kosong. sekitar 15 menit, belum juga terlihat, sudah banyak yang terisi. Di tengah penantian, maka ada salah satu tuk-tuk yang berhenti di depan kami dan sang sopir berkata Assalamu'alaikum. Dari mukanya lebih terlihat seperti orang melayu. Kita bingung, padahal di tuk-tuk itu juga ada turis asing lain. Ketika kami menghampirinya dan mengatakan kalau kita akan ke suatu tempat. Ia langsung terburu - buru dan berkata "naik! naik!" Dalam keadaan bingung kita pun naik. Walaupun dalam benak ini masih bertanya - tanya kebingungan.
Ketika di suatu persimpangan jalan, sang sopir menurunkan penumpang bule, kami pun ikut turun, maksudnya hendak bertanya lebih jelas kepada sopirnya. belum sempat bertanya, sopir ini sambil teriak-teriak suruh kita naik. Tidak lama setelah itu, ia pun berhenti. Kita pun masih bertanya ini orang mau apa sih? Nggak taunya ia mau pesan pancake untuk sarapannya. Ini salah satu camilan yang harus dicoba ketika ke phuket dan banyak yang halal, bahkan ada penjualnya yang menggunakan jilbab. Kemudian kami pun bertanya, apakah ia bisa mengantarkan kami ke beberapa tempat wisata? ternyata katanya, setelah ini akan ia antarkan kami ke seorang temannya, karena ia sendiri nggak bisa. "Bilang dong dari tadi", kataku dalam hati.
Kami pun dipertemukan dengan temannya. Kalau tanya harga, kami disuruh tanya langsung ke temannya. tapi kami pun tetap memberikan ongkos padanya. Setelah kita bertemu dengan sopir yang lain (muslim juga), kami minta ia bawa ke beberapa tempat di phuket ini. Ia pun menyanggupi mengantarkan kami keliling phuket dan membawa istrinya turut serta.
| Kata view |
Pertama - tama ia membawa ke beberapa pantai, diantaranya Karon beach dan Kata beach. Juga ia bawa kita ke Kata beach view point. Kami tidak terlalu lama berhenti di pantai- pantai tersebut, karena sudah ramai sekali para turis berjemur. Lalu setelah itu kami pun dibawa ke Promthep Cape, Letaknya di bagian selatan pulau Phuket. Inilah objek wisata yang saya sukai. Saya suka pemandangannya ke laut lepas. Tapi sayangnya kami di bawa ke sini tepat di tengah hari, jadi kurang bisa menikmati pemandangan karena panasnya yang terik. Di sekitar objek wisata ini, kita banyak menemui penjual-penjual souvenir. Tapi kami nggak beli apa-apa di sini, karena berniat membelinya di Bangkok saja. Bagi yang ingin ke Promthep Cape, sebaiknya datanglah ke sini sore hari, apalagi kalau pergi dengan suami, akan terasa suasana romantis sambil melihat sunset.
Setelah merasa puas di Promthep Cape, kemudian kami diantar ke Wat Chalong. Wat Chalong merupakan salah satu bangunan kuil yang terkenal di Phuket ini. Sampai di sana sudah ramai sekali. Kebanyakan yang berkunjung kemari para turis mancanegara. Ada beberapa orang penduduk lokal, tapi mereka ke sini memang tujuannya untuk beribadah. Ada juga beberapa turis yang ikut mencoba cara prosesi peribadatan agama Budha. Karena ini merupakan tempat peribadatan, maka turis yang masuk ke dalam kuil harus berpakaian yang sopan. Bagi turis asing yang pakaiannya minim, di sediakan kain untuk menutupi bagian yang dianggap terbuka oleh mereka. tapi saya kurang tahu, berapa sewanya. Dan ini berlaku juga untuk seluruh kuil yang akan kita masuki di seluruh Thailand. Jadi bagi yang mau berkunjung ke kuil - kuil, jangan lupa pakailah pakaian yang sopan. Jangan pakai celana pendek atau baju yang tidak berlengan. Btw untuk memasuki pantai, promthep cape, dan wat chalong tidak ada pungutan biaya, alias gratis.
Setelah puas foto-foto, kami pun menuju parkiran tuk-tuk, kemudian sang sopir tuk-tuk bicara pada kami, "after ni, kita chopping -chopping, tak beli tak ape". Suami bingung, maksudnya apa bunda? Shopping ayah, kataku. Oooh... baru ngeh ayah maksudnya :-) Sang sopir biasa bicara dengan kami menggunakan bahasa melayu yang campur aduk :-)
Sejak awal kami sudah bilang, kalau kami hanya pergi ke tempat wisata saja, tidak ke tempat belanja - belanja. Tapi ia keukeh dan membujuk kami supaya mau, dengan alasan, kalau ga suka nggak usah beli. Karena ia bakal dapat persenan kalau ia bawa kami ke sana, apalagi kalau turis yang ia bawa ngeborong, tambah gede deh persenannya.
Pertama-tama kita diantar olehnya ke Pearl factory and showroom. Tidak sampai lima menit, kami sudah keluar dari toko itu. Hanya lihat-lihat sebentar saja. Di toko tersebut, dijual berbagai macam mutiara dan berbagai jenis batu permata. Kisaran harganya saya juga kurang tahu, karena memang nggak berniat membeli, maka kami pun tidak sempat memperhatikan harga-harga perhiasan tersebut. Kemudian pak sopir mengatakan kalo setelah ini kita akan diantar ke "kechyuw nut". Kami iya kan saja, walaupun agak sedikit bingung mau kemana? Ketika sampai di tujuan, baru kami mengerti kalau tujuan yang di maksud adalah pusat penjualan "Cashew Nut" . Di sini merupakan pusat penjualan kacang mete sekaligus pabriknya dan memang kebanyakan yang di bawa ke sini adalah turis. Tetapi harga kacang mete di sini sangat mahal., jadi kami cuma beli sekedarnya saja. Setelah itu kita juga dibawa ke Bee farm. Tujuan utama kita dibawa kesana agar kita mau membeli madu mereka. Tapi...... harganya mahal banget. 1 botol madu dengan berat 450 gram, harganya kalau dirupiahkan bisa sekitar 180rb-an. Akhirnya kita beli yang harganya murah saja, pisang madu kering. Seperti pisang sale.
Setiap kita masuk ke tempat - tempat yang disebutkan di atas, baik itu pusat perhiasan, cashew nut ataupun bee farm, kita akan diberikan stiker yang mereka tempelkan dibaju pengunjung. Bahkan sewaktu ke bee farm kita akan ditanya asal negara dari mana, kalau kita bilang dari indonesia, mereka juga menyediakan guide yang berbahasa Melayu.
Karena sudah lewat makan siang, perut sudah tidak bisa diajak kompromi lagi. Maka kami meminta beliau untuk mengantarkan ke tempat makan muslim. Keuntungannya menggunakan sopir ini, ia seorang muslim, jadi ia tahu kemana seharusnya kami dibawa untuk makan. Kami pun dibawa ke phuket town. Ia membawa ke salah satu rumah makan yang penjualnya berjilbab. Tetapi saya lupa mencatat dimana letak persisnya restoran ini. Di restoran ini tidak disebutkan harganya di menu. Maka ketika kami membayar, kami agak kaget, karena harga kami bayar lebih mahal dibanding dengan yang dibayarkan sopir. Sepertinya harga turis dan pribumi dibedakan.
Akhirnya kami minta diantarkan ke hotel, walaupun kami masih punya banyak waktu untuk menggunakan tuk-tuk tersebut. Kami melihat rumaisa sepertinya sudah lelah. Dan cuaca terik di phuket memang membuat kita cepat lelah.
![]() |
| Bangla road menjelang maghrib |
Sore harinya kita keluar lagi. Kali ini kita jalan-jalan ke junceylon mall, kemudian menyusuri bangla road, yang merupakan pusat kehidupan malam di patong. Data itu bangla road baru akan ditutup jalannya. Cafe - cafe sedang bersiap - siap mengeluarkan kursi - kursi ke tepi jalan. Setiap harinya menjelang maghrib bangla road ini ditutup guna aktifitas malam hari. Kemudian kami pun ke patong beach lagi, ternyata sore hari suasananya lebih ramai.
| Pantai Patong di waktu senja |

Duuhh serunya jalan-jalan ya mak,... :)
ReplyDeleteAlhamdulillah. Terkadang nggak rela kembali ke rutinitis :-D terima kasih sudah mampir mak Irma :-)
Delete"Thailand trip (day-2) : Naik tuk-tuk keliling Phuket" is a very nice blog to read this i got more information about "Phuket Day Trips".
ReplyDeleteHow can i learn more about Trips Phuket Thailand ?
Day Trip Phuket | Day Tours Phuket
sorry slow respon. thanks for visiting my blog.
DeleteSaya jadi kangen kesini lagi...salam kenal mbak...
ReplyDeleteSaya jadi kangen kesini lagi...salam kenal mbak...
ReplyDelete