Mudik yang tertunda
Tidak seperti biasanya, lebaran tahun ini saya tidak terlalu direpotkan oleh urusan mudik. Jika tahun-tahun sebelumnya, suami sudah mulai berburu tiket kereta api menjelang ramadhan tiba. Memang kalau mudik lebaran kita tidak pernah bawa kendaraan. Untuk menghindari macet dan kelelahan di jalan kami memilih untuk menggunakan jasa PT.KAI.
Lebaran tahun ini, kami tidak pulang mudik. Juga inilah lebaran pertama tanpa suami disamping. Ketika malam takbiran tiba, hati ini rasanya sedih karena harus berjauhan dengan beliau. Ada rasa sunyi, walaupun di luar ramai dan sebenarnya orang tuapun menemani saya berlebaran bersama dirumah. Tapi perasaan itu tetap hinggap. Mungkin itu pula yang dirasakan anak. Mereka selalu bertanya kenapa ayah nggak lebaran bersama kita? Kenapa ayah tidak pulang dulu, nanti kembali lagi? Terutama si sulung yang agak sensitif perasaannya, sehingga ia sering menangis memanggil ayahnya. Sebenarnya hati ini pun sakit saat melihat ia bersedih seperti itu. Tapi saya harus kuat, agar anak-anakpun tidak terlalu bersedih. Dengan sangat hati-hati saya pun membujuknya untuk tidak bersedih lagi.
Alhamdulillah.....akhirnya tanggal 22 agustus sang kekasih pun telah kembali ke tanah air, dan kami pun bisa berkumpul kembali. Selang satu hari, tibalah waktunya mudik untuk kami. Kami mudik ke cirebon, tempat tinggal mertua. Pada mudik kali ini suami berjanji akan mengajak saya ke keraton.
Saya selalu protes, sudah nikah 9 tahun, tapi setiap ke cirebon belum pernah diajak berkunjung melihat keraton. Kalau ke mesjid agungnya sih pernah diajak oleh mertua, bahkan sempat sholat dzuhur di sana. Tapi kalau ke keraton, cuma diperlihatkan dari luar, sekedar ingin menunjukkan itulah keraton cirebon.
Selain ke keraton, suami juga mengajak anak-anak ke curug sidomba di kaki gunung ciremai yang masuk ke dalam wilayah kuningan. Kalo sudah pernah melihat beberapa air terjun sebelumnya, mungkin curug ini tidak terlalu menarik jadinya, akan jadi biasa saja. Kalau dikira-kira mungkin tinggi air terjun ini tidak lebih dari 3 meter. Fasilitas yang diberikan biasa saja, tidak ada yang terlalu menarik. Hanya saja hawa di sini sejuk dengan pemandangan gunung ciremai yang indah sebagai latarnya. Yang saya suka di sini adalah mesjidnya yang besar, bagus dan bersih. Setelah mengambil air wudhu di sini, terasa segar sekali.
Sebelum pulang ke cirebon, kami pun mampir di gedung perjanjian linggar jati. Hanya ingin memperkenalkan sejarah kepada anak-anak. Tapi kayaknya anak-anak juga nggak gitu ngeh deh. sampai di sana mereka lari kesana kemari dalam tiap ruangan. tapi minimal bundanya bisamen gingat kembali pelajaran sejarah zaman sekolah dulu. Di sini kita disediakan guide, jadi kita bisa mengerti cerita sejarah lebih detail.



Comments
Post a Comment